MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com

Iklan

KAYE-KAYE@GUNADITRIWIDODO

KAYE-KAYE@GUNADITRIWIDODO

Aha, foto yang entah terselip, kini ketemu lagi! Adalah Gunadi Tri Widodo yang mengingatkannya kembali dan langsung mengunggahnya di salah satu situs jejaring sosial. [mnn]

…boleh dibilang unik. Sepintas, kelihatan sebagai sebuah judul lagu. Sebenarnya, lebih dari itu, Monica juga bakal mengingatkan teman-teman yang suka lagu ini. Lagu ini pernah dipakai oleh salah satu group dalam class meeting SMA Negeri 1 Purworejo tahun 1990. Ada nama-nama Andi Dwi Irwanto di sana, Jati, dll. [aku lupa hahaha!]. Tentu saja di nomor gerak tari dan lagu, yang saat itu memang lagi populer…

Monica
oleh: Yana Julio

Eoa heo eoa hea …
Pada mulanya kita jumpa
Dalam suatu pesta dansa
Berputar kamu bergaya
Senyum manis kau menyapa

Akupun ada di sana
Ikut kamu berdansa
Berputar kita bergaya
Bagai teman lama saja

Ole ola la o Monica
Kamu sungguh mempesona o o Monica
Ole ola la la la semua ceria
Terasa pagi menyapa semua gembira

Oh bahagia oh bahagia
‘Ku dapat dansa denganmu
Dalam lantai pesta dansa
O Monica o Monica
‘Ku berpasangan denganmu
Dalam satu pesta dansa
O Monica o Monica

Eoa hea eoa heo…
Bahagia semua berdansa ikuti irama
Kiri kanan kita bergaya
Ikuti musik ceria
Ole la o Monica

Ole la la la o Monica
Kamu sungguh mempesona o o Monica

[dari http://www.kapanlagi.com/mnn]

MA jurrasicpark

Selintas saja terlihat gambar yang satu itu, sekian rangkaian kegiatan yang pernah teman-teman lakukan, akan teringat kembali. Benarkah? Adakah gambar-gambar lain sebagai ‘Sang Pengingat’?

[dari grup fesbuk MAHAPURWA ADIGAMA/mnn]

Di Purworejo, namanya GOR WR Supratman [mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan ejaan!], sedangkan di kota-kota lain tentunya dengan nama yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan pemberian nama sebuah gedung atau gelanggang olah raga tersebut.
Sebagai sebuah tempat yang memungkinkan sebagai sarana aktivitas lain, GOR WR Supratman pun bisa untuk menyelenggarakan even-even pertunjukan musik. Sejumlah artis dan musisi papan atas pernah manggung di sana, sebutlah Sawung Jabo, Totok Tewel, Power Metal, Nafa Urbach, Seurieus dan masih banyak lagi. Begitu pun musisi-musisi lokal akan senantiasa mencoba untuk bermain di sana.
Bagi musisi-musisi lokal, pesona GOR WR Supratman, mungkin bukan pada sebuah gedung dalam arti fisik, artistik atau arsitekturalnya. Juga jelas-jelas bukan pada sistem tata suara yang bakal dihasilkannya, tetapi justru dari kesempatan manggung yang boleh dikatakan jarang.
Tentu saja keberlangsungan sebuah pertunjukan musik, perlu dukungan banyak pihak. Jikalau masih banyak kendala di banyak sisi itu, keberlangsungan susah dipertahankan. Salah satu kelompok musik yang pernah bermain di GOR WR Supratman adalah Kanda Band, yang salah satu tracknya bisa teman-teman simak berikut ini… [dari http://www.youtube.com/mnn]

Dua dunia‘, adalah salah satu frase yang banyak dipilih dan digunakan dalam menggambarkan dan mengindentifikasi dua hal berbeda dalam sebuah semesta pembicaraan. Kadang bermakna meluas, karena ‘dunia’ di sini tidak selalu menunjuk pada ‘dunia’ yang berarti planet.
Salah satu yang ada dalam lirik ‘Isabella’, yang dipopulerkan Search, rombongan musik asal Malaysia di paruh ’80-an lampau,
“Isabella adalah kisah cinta dua dunia… dst.”
Seiring dengan diangkatnya ‘Isabella’ ke layar lebar dan layar kaca, theme song ini kembali menyeruak ke ingatan kita. Terlebih yang dulu sempat terjejali senandung-senandung adik-adik kecil laksana penyuka tembang-tembang Peterpan. Dan satu frase ‘dua dunia’ ini coba penulis otak-atik untuk menggelitik otak-otak kanan teman-teman semua. Itupun kalau nggak risih dan dirasa nggak reseh pula. Cerita yang diangkat di sini lebih banyak fenomena cinta antara sepasang kekasih atau laki-laki dan perempuan dari dua karakter berbeda. Sederhananya digambarkan dari dua negara kewarganegaraan berbeda misalnya, atau dari karakter penokohannya yang tak kunjung cepat kelar problematika dan romantikanya.
Baiklah, makna ‘dua dunia’ yang lain, pernah diangkat dalam sajian salah satu televisi nasional kita ketika itu, bertajuk ‘Dua Warna‘. Ini bisa menggambarkan dua hal yang lebih luas, dalam bentuk karya-karya musik di atas panggung. Genre yang disajikan justru bukan sealiran. Pop dengan rock misalnya. Atau dendang melayu dan keroncong pun bisa jadi. Satu hal yang menarik, kemasan sajian ini direncanakan detail dan matang. Oleh karenanya, masa-masa persiapan dan proses produksi menjadi menarik untuk ditayangulangkan atau diulas di media massa sebelum sajian itu ditayangkan televisi penyiarannya. Itu pertanda, sajian ‘Dua Warna’ layak untuk dinikmati publik, minimal bisa menginspirasi dan memancing wacana publik.
Entah apapun tajuknya, pengendali kreatifnya tentu saja siapa manusia di belakangnya. Barangkali sebagian teman-teman selalu mengincar kabar-kabar gadget terbaru dan fenomena-fenomena perubahan perilaku konsumen dewasa ini lebih kepada siapa kreatornya atau apa yang memengaruhinya, bukan pada apa produk jadinya. Baiklah, sah-sah saja, bukankan teman-teman yang pegang kendali untuk menyatakan sikap terhadap ‘perubahan’ yang terjadi?
Memang, kembali kepada manusianya. ‘Dua Manusia‘ yang dipopulerkan Paquita Widjaja, mungkin bisa memberi aroma lain. Penulis yakin, teman-teman sempat mengenalnya. Akankah weblog ini saling mempertemukan dua manusia-dua manusia yang lain, yang selalu inovatif dalam kacamata dan perpektif dua lain? Waktu akan menjawabnya. [mnn]

MA ANAMI DOANK MENGUNDANG

Sebuah invitasi unik berbentuk desain grafis yang dilempar di album foto koleksi, mungkin sangat tidak dianjurkan biro iklan mana pun. Tapi buat kepentingan sebuah komunitas, mencoba hal yang unik atau mungkin bahkan beraroma sembrono, kadang justru terasa lebih menggigit dan mengakrabkan. Tak terkecuali yang pernah dilakukan komunitas grup fesbuk Mahapurwa Adigama ini, beberapa bulan silam.
Awalnya Mahapurwa Adigama merupakan komunitas darat bukan seperti halnya sekarang yang menjelma menjadi sebuah komunitas mayantara. Walau begitu, komunitas ini konon kian kokoh berinteraksi satu sama lain di balik dinding-dinding dan tembok-tembok fesbuk. Kalau saja kita cermati, sesekali interaksi antar dinding pada jam-jam malam masih sesibuk jam kerja siang. Tak apalah, positive thinking layak dikedepankan. Mau kenal mereka, gabung saja di Mahapurwa Adigama. Untuk teman-teman juga, gathering mendatang bisa jadi lebih cepat terselenggara kembali. [mnn]